BRIKET BIOARANG DARI BAHAN SERBUK GERGAJI (SAWDUST)

Kebutuhan energi di Indonesia dipenuhi oleh bahan bakar minyak dan gas elpiji yang jumlahnya terbatas dan harganya sangat mahal. Di daerah pedesaan atau pegunungan yang rata-rata tingkat ekonomi masyarakatnya rendah, mempunyai kebiasaan memasak dan menghangatkan ruangan menggunakan kayu atau arang kayu sebagai bahan bakar. Sehingga banyak sekali terjadinya penebangan dan pembakaran hutan yang dapat merusak ekosistem dan keseimbangan lingkungan. Oleh karena itu, usaha untuk mencari bahan bakar alternatif yang bernilai ekonomis dan ramah lingkungan semakin banyak dilakukan. Serbuk gergaji (sawdust) belum termanfaatkan sepenuhnya, begitu pula blotong (sugar reed waste) sebagai limbah yang dihasilkan dari proses pemurnian gula. Padahal bahan-bahan tersebut merupakan biomassa dengan nilai kalor yang relatif besar.


British Petrolium (BP), 2005, menyatakan bahwa 47,5 persen kebutuhan energi di Indonesia dipenuhi oleh bahan bakar minyak. Jumlah ini setara dengan 55,3 juta ton minyak bumi, sehingga pemerintah diperkirakan akan mengalami kerugian subsidi sebesar 93 triliun rupiah. Untuk rumah tangga sebagian besar kebutuhan energinya masih mengandalkan minyak dan gas elpiji. Saat ini saja, cadangan minyak bumi di Indonesia tinggal 1 persen dan gas bumi hanya 1,4 persen dari total cadangan minyak dan gas bumi dunia, sedangkan cadangan batubara hanya 3 persen dari cadangan batubara dunia. Dari data tersebut dapat diperkirakan beberapa tahun lagi, Indonesia akan menjadi negara pengimpor penuh minyak bumi (net oil importer). ( Angga Y dan Kartika K, 2008).

Dengan semakin tingginya harga bahan bakar minyak dan gas elpiji, di daerah pedesaan atau pegunungan yang rata-rata tingkat ekonomi masyarakatnya rendah, mempunyai kebiasaan memasak dan menghangatkan ruangan menggunakan kayu atau arang kayu sebagai bahan bakar. Sehingga banyak sekali terjadinya penebangan dan pembakaran hutan yang dapat merusak ekosistem dan keseimbangan lingkungan. Oleh karena itu, usaha untuk mencari bahan bakar alternatif yang dapat diperbarui (renewable), ramah lingkungan, ramah lingkungan, dan bernilai ekonomis semakin banyak dilakukan. Salah satunya pembuatan briket bioarang. (Soda, R, 2010).

Briket merupakan bahan bakar padat yang mengandung karbon, mempunyai nilai kalori yang tinggi, dan dapat menyala dalam waktu yang lama. Bioarang adalah arang yang diperoleh dengan membakar biomassa kering tanpa udara (pirolisis). Sedangkan biomassa adalah bahan organik yang berasal dari jasad hidup. Biomassa sebenarnya dapat digunakan secara langsung sebagai sumber energi panas untuk bahan bakar, tetapi kurang efisien. Nilai bakar biomassa hanya sekitar 3000 kal, sedangkan bioarang mampu menghasilkan 5000 kal.
Serbuk gergaji (sawdust) merupakan limbah yang dihasilkan dari proses penggergajian kayu, yang biasanya digunakan sebagai bahan bakar tungku atau dibakar begitu saja, sehingga dapat menimbulkan pencemaran lingkungan. Padahal serbuk gergaji merupakan biomassa yang belum termanfaatkan secara optimal dan memiliki nilai kalor yang relatif besar.

ENGLISH:

MATERIAL FROM BIOARANG briquettes sawdust (SAWDUST)

Indonesia's energy needs met by fuel oil and LPG gas are limited and very expensive. In rural or mountainous areas that the average level of low economic status of communities, has a habit of cooking and warm the room using wood or wood charcoal as fuel. So a lot of logging and forest fires that can damage the ecosystem and ecological balance. Therefore, efforts to find alternative fuels economically valuable and environmentally more done. Sawdust (sawdust) is not yet fully exploited, as well as blotong (reed sugar waste) as the waste generated from the sugar refining process. Though these materials is the calorific value of biomass with a relatively large.


British petroleum (BP), 2005, states that 47.5 percent of Indonesia's energy needs met by fuel oil. This amount is equivalent to 55.3 million tons of crude oil, so the government will incur a loss estimated subsidy of 93 trillion rupiah. For the majority of households still rely on the energy needs of oil and LPG gas. Current course, oil reserves in Indonesia living 1 percent and natural gas is only 1.4 percent of total reserves of oil and gas world, whereas the coal reserves is only 3 percent of world coal reserves. From the data can be expected in a few years, Indonesia will become a country full of oil importer (net oil importer). (Anga Y and Kartika K, 2008).

With the high price of fuel oil and LPG gas in rural or mountainous areas that the average level of low economic status of communities, has a habit of cooking and warm the room using wood or wood charcoal as fuel. So a lot of logging and forest fires that can damage the ecosystem and ecological balance. Therefore, efforts to find alternative fuels that can be updated (renewable), environmentally friendly, environmentally friendly and more economically valuable performed. One was making briquettes bioarang. (Soda, R, 2010).

Briquette is a solid fuel containing carbon, has a high calorific value, and can burn for a long time. Bioarang is charcoal obtained by burning biomass dry air (pyrolysis). While biomass is organic material derived from living bodies. Biomass could be used directly as heat energy source for fuel, but less efficient. Value of biomass fuel is only around 3000 cal, while capable of producing bioarang cal 5000.
Sawdust (sawdust) is waste generated from the sawmill process, which is usually used as furnace fuel or burned away, so that may cause environmental pollution. Whereas biomass sawdust is not optimally utilized and has a calorific value is relatively large.